Faktor Risiko Stroke di Usia Muda
Pemicu stroke pada usia lanjut dapat berbeda dengan stroke di usia muda. Apa saja faktor-faktor yang bisa menjadi penyebab stroke di usia muda? Berikut penjelasannya.
1. Gaya Hidup Tidak Sehat
Selain dapat mengganggu kesehatan dan menurunkan sistem imun, gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi minuman keras, dan penggunaan obat-obatan terlarang, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke di usia muda. Gaya hidup yang tidak sehat ini pun dapat menyebabkan penurunan kesehatan dan kualitas hidup di kemudian hari.
2. Penyakit Jantung
Seseorang dengan riwayat penyakit jantung diketahui lebih rentan terserang stroke dibandingkan dengan orang tanpa kondisi serupa. Penyakit jantung, seperti jantung koroner, jantung rematik, atau pun kelainan pada jantung lainnya bisa meningkatkan risiko seseorang terserang stroke.
3. Gangguan Pembekuan Darah
Hemofilia atau kelainan bawaan yang dapat menyebabkan darah sulit beku merupakan salah satu contoh gangguan pembekuan darah yang mungkin terjadi. Kondisi tersebut menyebabkan seseorang mudah mengalami perdarahan. Jika terjadi pada otak, orang tersebut dapat mengalami stroke hemoragik.
Pada dasarnya, stroke dapat dicegah sejak dini, baik untuk mengurangi faktor risiko pada usia muda maupun di usia lanjut. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat, rutin berolahraga, dan menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui medical check-up.
Penting untuk dipahami bahwa informasi di atas hanya ditujukan sebagai edukasi dan tidak dapat menggantikan saran medis dari dokter. Beberapa penyebabnya juga bisa berkaitan dengan kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, jika Anda memiliki faktor risiko atau gejala stroke, segera periksakan diri untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dengan berkonsultasi ke Dokter Spesialis Neurologi.
Ingat, stroke dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Jika gejala stroke muncul, penanganan dalam 4,5 jam pertama (golden period) sangat penting untuk mencegah kerusakan otak yang lebih parah. Kecepatan dalam mendapatkan perawatan medis juga berpengaruh besar terhadap tingkat pemulihan pasien.